Jumat, 06 April 2012

arti sebuah nama

Nama adalah ciri atau tanda, maksudnya adalah orang yang diberi nama dapat mengenal dirinya atau dikenal oleh orang lain. Dalam Al-Qur’anul Kariim disebutkan;
يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَل لَّهُ مِن قَبْلُ سَمِيًّا (7) سورة مريم
“Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia” (QS. Maryam: 7).
Dan hakikat pemberian nama kepada anak adalah agar ia dikenal serta memuliakannya. Oleh sebab itu para ulama bersepakat akan wajibnya memberi nama kapada anak laki-laki dan perempuan 1). Oleh sebab itu apabila seseorang tidak diberi nama, maka ia akan menjadi seorang yang majhul (=tidak dikenal) oleh masyarakat.
Waktu Pemberian Nama
Telah datang sunnah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang waktu pemberian nama, yaitu:
Memberikan nama kepada anak pada saat ia lahir.
Memberikan nama kepada anak pada hari ketiga setelah ia lahir.
Memberikan nama kepada anak pada hari ketujuh setelah ia lahir.
Pemberian Nama Kepada Anak Adalah Hak (Kewajiban) Bapak.
Tidak ada perbedaan pendapat bahwasannya seorang bapak lebih berhak dalam memberikan nama kepada anaknya dan bukan kepada ibunya. Hal ini sebagaimana telah tsabit (=tetap) dari para sahabat radhiallahu ‘anhum bahwa apabila mereka mendapatkan anak maka mereka pergi kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam agar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nama kepada anak-anak mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan bapak lebih tinggi daripada ibu.
Nasab Anak Kepada Bapak Bukan Kepada Ibu
Sebagaimana hak memberikan nama kepada anak, maka seorang anakpun bernasab kepada bapaknya bukan kepada ibunya, oleh sebab itu seorang anak akan dipanggil: Fulan bin Fulan, bukan Fulan bin Fulanah.
Allah Ta’ala berfirman:
ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ (5) سورة الأحزاب
Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka…” (QS. Al-Ahzab: 5)
Oleh karena itu manusia pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama bapak-bapak mereka: Fulan bin fulan. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam 2).
Memilih Nama Terbaik Untuk Anak
Kewajiban bagi seorang bapak adalah memilih nama terbaik bagi anaknya, baik dari sisi lafadz dan maknanya, sesuai dengan syar’iy dan lisan arab. Kadangkala pemberian nama kepada seorang anak baik adab dan diterima oleh telinga/pendangaran akan tetapi nama tersebut tidak sesuai dengan syari’at.
Tata Tertib Pemberian Nama Seorang Anak
Disukai Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Dua Suku Kata, misal Abdullah, Abdurrahman. Kedua nama ini sangat disukai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana diterangkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud dll. Kedua nama ini menunjukkan penghambaan kepada Allah Azza wa Jalla. Dan sungguh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan nama kepada anak pamannya (Abbas radhiallahu ‘anhu), Abdullah radhiallahu ‘anhuma. Kemudian para sahabat radhiallahu ‘anhum terdapat 300 orang yang kesemuanya memiliki nama Abdullah. Dan nama anak dari kalangan Anshor yang pertama kali setelah hijrah ke Madinah Nabawiyah adalah Abdullah bin Zubair radhiallahu ‘anhuma.
Disukai Memberikan Nama Seorang Anak Dengan Nama-nama Penghambaan Kepada Allah Dengan Nama-nama-Nya Yang Indah (Asma’ul Husna), misal: Abdul Aziz, Abdul Ghoniy dll. Dan orang yang pertama yang menamai anaknya dengan nama yang demikian adalah sahabat Ibn Marwan bin Al-Hakim. Sesungguhnya orang-orang Syi’ah tidak memberikan nama kepada anak-anak mereka seperti hal ini, mereka mengharamkan diri mereka sendiri memberikan nama anak mereka dengan Abdurrahman sebab orang yang telah membunuh ‘Ali bin Abi Tholib adalah Abdurrahman bin Muljam.
Disukai Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Nama-nama Para Nabi. Para ulama sepakat akan diperbolehkannya memberikan nama dengan nama para nabi3).Diriwayatkan dari Yusuf bin Abdis Salam, ia berkata:”Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nama kepadaku Yusuf” (HR. Bukhori –dalam Adabul Mufrod-; At-Tirmidzi –dalam Asy-Syama’il-). Berkata Ibnu Hajjar Al-Asqolaniy: Sanadnya Shohih. Dan seutama-utamanya nama para nabi adalah nama nabi dan rasul kita Muhammad bin Abdillah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama berbeda pendapat tentang boleh atau tidaknya penggabungan dua nama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama kunyahnya, Muhammad Abul Qasim. Berkata Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah:”Dan yang benar adalah pemberian nama dengan namanya (yakni Muhammad, pent) adalah boleh. Sedangkan berkunyah dengan kunyahnya adalah dilarang dan pelarangan menggunakan kunyahnya pada saat beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup lebih keras dan penggabungan antara nama dan kunyah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam juga terlarang”4).
Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Nama-nama Orang Sholih Dari Kalangan Kaum Muslimin.Telah tsabit dari hadits Mughiroh bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda: أنهم كانوا يسمون بأسماء أنبيائهم والصالحين (رواه مسلم). “Sesungguhnya mereka memberikan nama (pada anak-anak mereka) dengan nama-nama para nabi dan orang-orang sholih” (HR. Muslim)."
Kemudian para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah penghulunya orang-orang sholih bagi umat ini dan demikian juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari akhir.
Para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memandang bahwa hal ini adalah baik, oleh karena itu sahabat Zubair bin ‘Awan radhiallahu ‘anhu memberikan nama kepada anak-anaknya –jumlah anaknya 9 orang- dengan nama-nama sahabat yang syahid pada waktu perang Badr, missal: Abdullah,’Urwah, Hamzah, Ja’far, Mush’ab, ‘Ubaidah, Kholid, ‘Umar, dan Mundzir.
Syarat-syarat Dalam Pemberian Nama
Nama tersebut menggunakan bahasa arab.
Nama tersebut dibangun dengan makna yang baik secara bahasa dan syari’at. Oleh karenanya dengan adanya syarat ini tidak boleh menggunakan nama-nama yang haram atau makruh baik dalam segi lafadz ataupun maknanya. Oleh karena itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek menjadi nama-nama yang baik dari segi lafadz dan maknanya.
Nama-nama yang Diharamkan
Kaum muslimin telah bersepakat terhadap haramnya penggunaan nama-nama penghambaan kepada selain Allah Ta’ala baik dari matahari, patung-patung, manusia atau selainnya, missal: Abdur Rasul (=hambanya Rasul), Abdun Nabi (=hambanya Nabi) dll. Sedangkan selain nama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, misal: Abdul ‘Izza (=hambanya Al-‘Izza (nama patung/berhala), Abdul Ka’bah (=hambanya Ka’bah), Abdus Syamsu (=hmabanya Matahari) dll.
Memberi nama dengan nama-nama Allah Tabaroka wa Ta’ala, misal: Rahim, Rahman, Kholiq dll.
Memberi nama dengan nama-nama asing atau nama-nama orang kafir.
Memberi nama dengan nama-nama patung/berhala atau sesembahan selain Allah Ta’ala, misal: Al-Lat, Al-‘Uzza dll.
Memberi nama dengan nama-nama asing baik yang berasal dari Turki, Faris, Barbar dll.
Setiap nama yang memuji (tazkiyyah) terhadap diri sendiri atau berisi kedustaan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; ن أخنع إسم عند الله رجل تسمى ملك الأملاك (رواه البخاري؛ مسلم “Sesungguhnya nama yang paling dibenci oleh Allah adalah seseorang yang bernama Malakul Amlak (=rajanya diraja)” (HR. Bukhori; Muslim).
Memberi nama dengan nama-nama Syaithon, misal: Al-Ajda’ dll.
Nama-nama Yang Dimakruhkan
Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama-nama orang fasiq, penzina dll.
Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama perbuatan-perbuatan jelek atau perbuatan-perbuatan maksiat.
Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama para pengikut Fir’un, misal: Fir’un, Qarun, Haman.
Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama-nama hewan yang telah dikenal akan sifat-sifat jeleknya, misal: Anjing, keledai dll.
Dimakruhkan memberi nama anak dengan Ism, mashdar, atau sifat-sifat yang menyerupai terhadap lafzdz “agama” (الدين) , dan lafadz “Islam” (الإسلام), misal: Nurruddin, Dliyauddin, Saiful Islam dll.
Dimakruhkan memberi nama ganda5), misal: Muhammad Ahmad, Muhammad Sa’id dll.
Para ulama memakruhkan memberi nama dengan nama-nama surat dalam Al-Qur’an, misal: Thoha, Yasin dll.
Jalan Keluar Dari Pemberian Nama-nama Yang Diharamkan Dan Yang Dimakruhkan
Jalan keluar dari kedua hal ini adalah merubah nama-nama tersebut dengan nama-nama yang disukai (mustahab) atau yang diperbolehkan secara syar’i. Dan untuk merubah nama ini kita dapat mendatangi kementrian/depertemen yang mengurusi masalah ini.6)
Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang mengandung makna kesyirikan kepada Allah kepada nama-nama Islamiy, dari nama-nama kufur kepada nama-nama imaniyah.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhaiallahu ‘anha, ia berkata:
كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يغير الإسم القبيح إلى الإسم الحسن (رواه الترمذي).
Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek menjadi nama-nama yang baik” (HR. AT-Tirmidzi).
Demikianlah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek dengan nama-nama yang baik, seperti beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama Syihab menjadi Hisyam dll. Demikian juga kita mesti merubah nama-nama yang buruk menjadi nama-nama yang baik, misal: Abdun Nabi menjadi Abdul Ghoniy, Abdur Rasul menjadi Abdul Ghofur, Abdul Husain menjadi Abdurrahman dll.
Maraji’:
Tasmiyah Al-Maulud, karya: Asy-Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid
Catatan Kaki:
1) Marotib Al-Ijma’, hal: 154. Oleh Ibn Hazm.
2) Lihat Shahih Bukhori, bab: Maa Yad’u An-Naas Bi abaihim.
3) Lihat Syarh Shahih Muslim 8/437. Imam An-Nawawi rahimahullah; Marotib Al-Ijma’, hal: 154-155.
4) Zaadul Ma’ad, 2/347. Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah.
5) Maksudnya adalah memberikan nama anak dengan dua nama, yang mana nama tersebut terdapat dalam satu orang. Misal Muhammad Ahmad, nama Muhammad dan Ahmad dimiliki oleh satu orang, dan Ahmad bukanlah nama bapaknya,pent.
6) Untuk di sini (Kuwait) kita dapat mendatangi Mahkamah,pent.
Dikutip dari Darussalaf.org offline dinukil dari http://abdurrahman.wordpress.com Penulis: Ustadz Abu Muhammad Abdurrahman Sarijan Judul: Etika Memberi Nama Anak Dalam Islam
Sumber : http://kaahil.blogdetik.com/2008/12/20/etika-memberi-nama-anak-dalam-islam/
Nama islam untuk nama bayi Islam anda mempunyai arti penting. Pemilihana nama bayi islam yang merupakan anugrah Allah telah di mendapat tuntunan nabi. Nama Islamadalah do'a dan untuk itu nama nama bayi islam anda selayaknya mendapatkan perhatian. Anda dapat mendownload daftar 853 nama islam untuk nama bayi islam anda melalui link di blog ini. Mudah2an nama untuk buah hati anda menjadi do'a yang makbul. Sebelum memilih nama bayi islam anda ada beberapa panduan memilih nama bayi islam
1. Sebaik-baik nama adalah ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman (Al-Hadits)
2. Nama yang paling sesuai adalah Ĥarits dan Hammam (Al-Hadits)
3. Nama yang paling buruk adalah Ĥarb dan Murrah (Al-Hadits)
4. Dilarang menggunakan nama Barrah (Al-Hadits)
5. Dilarang menggunakan nama-nama yang berarti buruk
6. Dilarang menggunakan nama sesembahan selain Allah, seperti ‘Abdul Ka’bah, dll
6. Dilarang menggunakan Asmaa-ul Husnaa jika tidak memakai ‘Abdu di depannya
7. Dilarang menggunakan nama-nama malaikat
8. Dilarang menggunakan nama-nama menyerupai orang-orang di luar Islam
9. Dianjurkan tidak menggunakan nama-nama yang terlalu panjang. Kebanyakan nama-nama bayi di zaman Nabi SAW hanya terdiri dari 1 kata saja
10. Karena nama bayi Islam dalam bahasa Arab, dianjurkan untuk memilih nama yang mengandung huruf-huruf Arab yang mudah diucapkan oleh lisan Indonesia secara benar, sehingga tidak merubah arti nama tersebut.
Anda bisa mencari literatur lain untuk memperkuat panduan memilih nama bayi islam diatas karena pasti ada pendapat yang berbeda, silahkan tetapkan niat anda.
NAMA BAYI LAKI-LAKI
Aid, yang Kembali
Abbas, Paman Nabi2
Abdul Alim, Hamba yang Maha Tahu
Abdul Ally, Hamba yang Maha Tinggi
Abdul Azhim, Hamba yang Maha Agung
Abdul Aziz, Hamba yang Maha Kuat
Abdul Bari, Hamba yang Maha Pencipta
Abdul Basits, Hamba yang Maha Meluaskan
Abdul Fatah, Hambata yang Maha Membuka Rizki
Abdul Ghaffar, Hamba yang Maha Pengampun
Abdul Ghani, Hamba yang Mahakaya
Abdul Hadi, Hamba yang Maha Memberi Petunjuk
Abdul Hafizh, Hamba yang Maha Menetapkan Hukum
Abdul Hakim, Hamba yang Maha Bijaksana
Abdul Halim, Hamba yang Maha Lembut
Abdul Hamid, Hamba yang Maha Terpuji
Abdul Haq, Hamba yang Maha Benar
Abdul Hasib, Hamba yang Maha Penghitung
Abdul Jabar, Hamba yang Mahaperkasa
Abdul Jalil, Hamba yang Mahaluhur
Abdul Karim, Hamba yang Maha Pemurah
Abdul Khaliq, Hamba yang Maha Pencipta
Abdul Latief, Hamba yang Maha Lembah-lembut
Abdul Majid, Hamba yang Maha Mulia
Abdul Matin, Hamba yang Maha Perkasa
Abdul Mu'iz, Hamba yang maha Pemberi Kemuliaan
Abdul Muhaimin, Hamba yang Maha Penjaga
Abdul Muhsin, Hamba yang Maha Baik
Abdul Qadir, Hamba yang Maha Kuasa
Abdul Qahhar, Hamba yang Maha Penakluk
Abdul Quddus, Hamba yang Maha suci
Abdul Wahhab, Hamba yang Maha Pemberi
Abdul Wahid, Hamba yang Maha esa
Abdullah, Hamba Allah
Abdun Nasir, Hamba yang Maha Penolong
Abdur Rauf, Hamba yang Maha Pengasih
Abdur Rafi, Hamba yang Maha Pengangkat
Abdur Rahim, Hamba yang Maha Penyayang
Abdur Rahman, Hamba yang Maha Pengasih
Abdur Rasyid, Hamba yang Maha pandai
Abdur Rauf, Hamba yang Maha Penyayang
Abdur Razaq, Hamba yang Maha Memberi Rizki
Abdus Salam, Hamba yang Maha Sejahtera
Abdus Shabir, Hamba yang Maha Penyabar
Abdus Syakur, Hamba yang Maha Berterima kasih
Abdut Tawwab, Hamba yang Maha Penerima
Abid, Ahli Ibadah
Adib, Beradab
Adil, Yang Adil
Adnan, Mendiami, menempati
Ady, Kaum yang bersiap perang
Afif, Selamat dari Kehinaan
Ahmad, Memuji
Ali, Nama Khalifah keempat
Alif, Lemah Lembuh
Alim, Pandai
Allam, Banyak Ilmu
Alwan, Tinggi
Aly, Mulia
Amin, yang dapat dipercaya
Amir, Raja, Pemimpin
Ammar, Kuat imannya
Amru, Kehidupan
Anis, Ramah
Anwar, Bercahaya
Aqil, Paham
Arif, Yang tahu
Arkan, Kemuliaan
As'ad, Lebih Bahagia
Ashim, Yang memelihara Diri
Asyam, Pemimpin yang Mulia
Asyraf, lebih Mulia
Asyur, Hari ke-10 Bulan Muharam
Atha, Rizki
Athif, Orang yang lemah lembut
Atiq, Mulia
Ayub, Nama Nabi
Azhar, bercahaya
Aziz, yang perkasa
Azzam, berkemauan keras
Badar, Bulan Purnama
Badrani, 2 bulan Purnama
Bahij, yang cerita, tampan, pemandangan yang elok
Bahir, yang mengalahkan
Bahy, Tampan dan bermata indah
Bandar, Pelabuhan
Bari', Terjaga dari perbuatan dosa dan aib
Barraq, Berkilauan
Basil, Pemberani
Basman/Bassam, yang banyak senyum
Basyir, berita gembira
Bilal, Nama sahabat
Burhan, Penjelasan
Daffa', Banyak memiliki pertahanan diri
Dany, Dekat
Daris, Pembaca
Darwisy, Yang banyak beribadah
Dary, Arif bijaksana
Daud, Nama Nabi
Dhahy, Tempat yang terang
Dhaif, Tamu
Dhawy, Bersinar
Dhafi, yang lebar rambutnya
Daifullah, Tamu Allah
Dhiya, Sinar/Cahaya
Dzahab, emas
Dzakir, yang kuat daya ingatnya
Dzakwan, Sangat cerdas
Dzaky, cerdas, pandai
Dzamar, sesuatu yang harus dipertahankan
Dzikra, Peringatan
Fadhal, kebaikan
Fadhil, Yang berbudi
Fadi, Yang menebus
Fadlal, Keutamaan
Fadlil, Yang Utama
Faishal, Hakim
Fakhir, Bagus
Falih, Lurus
Fallah, Kemenangan
Farhan, Kesenangan / kebahagiaan
Fari', Perawakan tinggi
Farid, satu-satunya, tiada bandingnya
Faris, Pemburu
Farras, Cerdas
Farruq, Yang membedakan antara hak dan batil
Fathin, Cerdas
Fatih, Penakluk
Fauzan, Keberuntungan
Fawa, Kemenangan / Keberhasilan
Fuad, Hati
Ghali/Ghaly, Mahal / Berharga
Ghalib, yang menang
Habib, Yang terkasih
Hadi, Yang menunjukkan
Hadzal, Yang berjalan dgn cepat
Hafizh, Penghafal
Haidar, Pemberani
Hajid, Orang yang bertahajjud
Hakam, Hakim yang bijaksana
Halim, Lembut dan sabar
Hamdan, yang banyak pujian
Hamid, yang bersyukur
Hammad, yang banyak bersyukur
Hanif, yang lurus dalam beragama
Harun, Nama Nabi
Hasan, Baik
Hasib, Bangsawan
Hasyid, Orang yg selalu siap
Hasyim, Yang memecahkan perkara
Hatim, Mengadili
Hazim, berkemauan keras
Hibban, yang dikasihi
Hilal, Bulan Sabit
Hilmy, Penyabar/Pemurah
Hisyam, Kebaikan
Hud, Nama Nabi
Humam, Pemberani
Husain, sangat baik
Husam, Pedang yang tajam
Huwaidi, Yang mempunyai Sifat menakjubkan
Ibrahim, Nama Nabi
Imam, Teladan / Pemimpin
Isa, Nama Nabi
Ismail, Nama Nabi
Jalal, Orang besar yang dihormati
Jalil, Memiliki kekuasaan yang besar
Jamal, Keindahan
Jamaluddin, Keindahan agama
Jamil, yang baik
Jauhar, Permata
Jibran, Perintah
Jihad, Perjuangan
Kaisan, Cerdas
Kamal, Kesempurnaan / kelengkapan
Kamil, yang sempurna / lengkap
Karom, Kehormatan / Kemuliaan
Karim, yang terhormat
Kasib, Orang yang beruntung
Katib, Penulis
Khairi, Kebaikan
Khairullah, kebaikan Allah
Khalid, Kekal / Abadi
Khalifah, Pemimpin
Khalil, Teman karib
Khalish, Murni, bersih
Khatib, orang yang menyampaikan Khutbah
Luqman, Jalan terang
Lutfhi, Kehalusanku, kelembutanku
Mabruk, diberkahi
Mahbub, yang dicintai
Mahdy, yang mendapat hidayah
Mahfuzh, yang dijaga, dipelihara
Mahir, pandai
Mahmud, yang terpuji
Majid, yang baik
Malik, Raja / Yang memiliki
Maqbul, Diterima
Marjan, Batu Mutiara
Marzuq, yang memperoleh Rizky
Mas'ud, yang dianugerahi kebahagiaan
Masyurm Terkenal
Mathar, Hujan
Mauhub, yang dianugerahi
Miqdad, Orang yang mencegah kemungkaran
Mu'adz, Nama sahabat
Mubarak, Yang diberkahi
Muhajir, Orang yang berhijrah
Muhammad, Nama Nabi
Muhsin, yang berbuat baik
Mujahid, Pjuang
Mukhtar, Pilihan
Mukmin, Orang yang beriman
Mumtaz, Istimewa
Munir, bercahaya
Murad, Maksud
Mursyid, Penunjuk jalan
Mushlih, orang yang melakukan perbaikan
Muslim, orang Islam
Musthafa, Pilihan
Nabil, Terhormat
Nafal, Pemberian
Nafis, berharga
Najib, Mulia
Nashir, Yang menolong
Nasrullah, Pertolongan Allah
Naufal, Pemberian
Nayif, tinggi
Nazhim, Pengarang Puisi
Nazhir, yang memberi peringatan
Nibras, Pemberani
Nu'man, Yang memiliki kenikmatan
Nuh, Nama Nabi
Nuruddin, Cahaya Agama
Nuzhmi, jamaah, golongan
Qashid, yang menuju pada kemudahan
Qasim, yang membagi
Gatadah, Nama sahabat
Ra'if, sangat penyayang
Ra'uf, memiliki banyak kasih sayang
Rabbah, yang sangat beruntung
Rafi', Kedudukan yang tinggi & mulia
Raihan, Rizky
Rajab, Bulan Rajab
Ramadhan, Bulan Ramadhan
Ramiz, Yang merumuskan
Ramy, Bintang
Ramzi, Rumus
Ramzy, yang dapat disimbolkan
Rasul, Utusan
Rasyad, Petunjuk / Istiqamah
Rasyid, Petunjuk
Rasyiq, Tangkas, Gesit
Ratib, yang tetap
Ridhwan, Kepuasan, menerima
Riyadh, Taman
Rusydi, Petunjuk
Sa'id, Senang / Bahagia
Safar, berpergian
Sahir, yang berjaga diwaktu malam
Saif, pedang
Sajid, orang yang sujud kepada Allah
Salam / Salim, Selamat
Salman, nama sahabat
Sami, Luhur / Tinggi
Samir, Siang dan Malam
Sayyid, Pemuka / Pemimpin
Shabir / Shabri, Yang sabar / kesabaran
Shadiq, teman
Shafy, sahabat karib
Shahib, sahabat
Shamid, teguh / tegar
Shiddiq, yang jujur
Sidqi, kejujuran
Siraj, lentera / Lampu
Su'ud, keberuntungan
Sulaiman, nama Nabi
Sulthan, Kekuasaan
Sya'ban, Bulan Sya'ban
Syaddad, yang kuat
Syafi, yang menyembuhkan
Syafi', penolong / perantara
Syahid, orang yg meninggal fi sabilillah
Syakir, yang bersyukur
Syarif, yang mulia
Tamim, sempurna keadaannya
Tamir, banyak rizki dan kebaikan
Tamman, sempurna
Taufiq, petunjuk
Thaha, Nama surat dalam Al Qur'an
Thariq, Jalan
Thayyib, Baik
Tsani, yang kedua
Tsaqif, yang pandai
Umar, Nama Khalifah yang kedua
Umran, Kemakmuran
Utsman, Nama Khalifah ketiga
Wadud, yang dicintai
Wafi, yang melaksanakan / yang memenuhi (janji)
Wahid, satu-satunya
Wali, yang mencintai
Walid, yang dilahirkan
Washil, yang menghubungkan
Wasim, yang berwajah bagus
Ya'qub, Nama Nabi
Yafi, Lincah
Yahya, Nama Nabi
Yasir, Mudah / gampang
Yazid, lebih
Yunus, Nama Nabi
Yusuf, Nama Nabi
Zaghlul, cepat & ringan
Zahran, berkilau
Zahy, Wajah yang Elok
Zaky, Suci
Zakariya, Nama Nabi
Zhafar, kemenangan
Zhafir, yang menang / yang beruntung
Zhahir, yang tampak, yang nyata
Zuhair, bersinar
NAMA-NAMA BAYI PEREMPUAN
A'idah, Anugrah
Adzra', Perawan
Afifah, yang menjaga kesucian diri
Aisyah, Istri nabi
Aliyah, tinggi
Alya', langit
Aminah, yang terpercaya
Amirah, Pemimpin
Anisah, gadis perawan / lemah lembut
Aqilah, Terhormat, pandai
Arij, Harum
Asahy, warna-warni
Ashimah, yang menjaga
Asilah, yang berbuat baik
Asma, Unggul
Athifah, kasing sayang
Athirah, yang harum
Atikah, jernih
Atiqah, cantik
Azhar, Bunga2
Azizah, yang mulia
Badriyyah, malam rembulan
Balqis, Ratu negeri saba'
Basamah, tersenyum
Basimah, yang tersenyum
Dalilah, bukti
Daliyah, yang menunjukkan
Danah, Batu mulia
Dananir, Dinar
Daulah, Negara
Dunya, Dunia
Dien, agama
Dhaifa, tamu
Dhafiyah, mewah
Dinah, taat
Diyanah, Agama
Durah, mutiara
Dzahabiyyah, yang memiliki sifat emas
Dzakirah, yang berzikir
Dzakiyyah, cerdas
Dzikra, peringatan
Fa'izah, yang beruntung
Fadhilah, keistimewaan
Fadiyah, yang terlindungi
Faidah, Manfaat
Fairuz, Batu mulia
Farah, senang
Farhah, keceriaan
Faridah, tiada bandingnya
Fathimah, Putri Nabi
Fathinah, cerdas
Fathiyyah, Kemenangan
Fatin, yang menakjubkan
Fauziyyah,yang beruntung
Fikriyyah, berfikir
Firdaus, taman surga
Gaitsa', awan turunnya hujan
Ghaniyyah, wanita kaya
Ghaniyah, wanita penyenandung
Ghazalah, matahari terbit
Habibah, yang tercinta
Hadiyah, hadiah
Hafizhah, pemelihara
Hajar, Istri nabi Ibrahim AS
Hajir, yang berhijrah
Hajirah, yang berhijrah
Hakimah, yang bijaksana
Halimah, yang lebih, sabar
Hamamah, merpati
Hamidah, Yang memuji
Hana', suka cita
Hanan, Kasih sayang
Hamsah, suara pelan
Hanin, kasih sayang
Haniyah, lemah lembut
Hasanah, kebaikan
Hasibah, keturunan terpandang
Hasna', kebaikan, cantik
Hasyimiyyah, yang mulia
Haura', putih kulitnya
Haya, Puteri
Hazimah, keteguhan hati
Husna, kelembutan
Husniyah, yang baik
Hiwaidah, yang menakjubkan, kelembutan
Inas, baik hati
Inayah, tuntunan
Izah, kemuliaan
Ja'izah, hadiah
Jahra', memiliki pipi yang indah
Jaida', kebaikan
Jalilah, terhormat
Jamilah, yang indah
Jauzah, bintang
Jawahir, permata
Jihan, menjadikan terhormat
Juwairiyyah, istri nabi
Kadziyah, bunga yang harum
Kaltsum, cantik
Kamilah, sempurna
Karamah, kemuliaan
Karimah, Mulia
Kautsar, telaga surga
Kazhimah, sanggup menahan amarah
Khadijah, istri nabi
Khairiyah, baik
Khalishah, murni
Khaznah, harta yang disimpan
Labibah, cerdas
Lahfah, kerinduan
Laila, malam gelap
Luthfiyyah, halus
Mahabbah, kecintaan
Mahdiyyah, yang mendapat hidayah
Mahirah, pandai
Maimunah, yang beruntung
Mariyah, wajah yang berseri-seri
Marjanah, sebutir mutiara
Marmarah, baru marmer
Maryam, ibu Nabi Isa
Masarrah, kegembiraan
Mauhibah, anugrah
Mawaddah, kasih sayang
Mubarakah, diberkahi
Mufidah, yang berfaidah
Muhdiyah, yang menunjukkan
Mujahidah, pejuang
Mukminah, yang beriman
Munirah, yang terang
Murada, yang dicintai
Na'ilah, karunia
Nabilah, mulia
Nada, menyeru
Nadiyah, yang menyeru
Nafi'ah, bermanfaat
Nafisah, kaya raya
Nagmah, suara merdu
Najah, sukses
Nadjah, keberanian
Najiyah, selamat
Najlah', yang lebar matanya
Najmah, bintang
Najwa, rahasia
Nasamah, pembebasan
Nashirah, mendapat pertolongan dan menang
Nazhimah, kumpulan mutiara
Nazihah, terhindar dari hal-hal buruk
Nihayah, penutur
Nujud, cerdik
Nur, Cahaya
Nuwayyar, yang bercahaya
Qamariyyah, Nama bunga
Qasimah, cantik
Qiladah, kalung
Qismah, bagian
Ra'idah, pemandu
Rafi'ah, yang tinggi
Rafidah, yang diberi pertolongan
Rafiqah, Istri
Raghdah, damai
Rahaf, halus
Rahimah, penyayang
Rahmah, rahmat
Raihanah, wanita yang baik jiwanya
Raim, bukit
Raima, selama
Rajwa, permohonan
Raniyah, yang memandang dengan terpesona
Rasikhah, tegar, kuat
Rasyidah, yang matang fikirannya
Raudhah, taman
Rifqah, himpunan
Sa'adah, kebahagiaan
Sa'idah, yang senang
Sahilah, yang sangat mudah
Sahirah, rembulan
Sajidah, yang banyak bersujud
Sakinah, tenang
Salimah, selamat
Sallamah, yang menyelamatkan
Salma, selamat
Salsabil, mata air surga
Salwa, nama burung, madu
Samar, sinar rembulan
Samirah, siang dan malam
Samiyah, luhur
Samra', warna coklat
Sarah, Istri nabi Ibrahim
Sayyidah, Nyonya
Shabah, waktu pagi
Shabihah, wajah yang berseri-seri
Shada, gema
Shadiqah, yang jujur
Shafa, kejernihan
Shalihah, wanita yang shaleh
Shiba, kerinduan
Suhailah, mudah
Sulthanah, pemimpin wanita
Syarifah, yang mulia
Syukriyyah, kesyukuran
Tahani, selamat
Tamimah, perlindungan
Thallah, cantik
Thayyibah, yang baik
Tsamirah, yang berbuah
Tumamah, kesempurnaan
Ulfah, ramah tmah
Ulya, yang luhu
Umu Kultsum, Nama Puteri Nabi
Unsyudah, syair yang berkumandang
Wahidah, satu-satunya
Waliyah, yang mencitai
Wardah, bunga mawar
Wasimah, Berwajah cantik
Yamamah, merpati
Yasamin/yasaminah, Bunga melati
Zahirah, bercahaya
Zahrah, bunga
Zahwah, membanggakan
Zainab, istri nabi
Zainah, yang indah
Zakiyah, Suci
Zhafirah, yang beruntung
Zhahirah, penolong
Nama adalah ciri atau tanda, maksudnya adalah orang yang diberi nama dapat mengenal dirinya atau dikenal oleh orang lain. Dalam Al-Qur’anul Kariim disebutkan;
يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَل لَّهُ مِن قَبْلُ سَمِيًّا (7) سورة مريم
“Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia” (QS. Maryam: 7).
Dan hakikat pemberian nama kepada anak adalah agar ia dikenal serta memuliakannya. Oleh sebab itu para ulama bersepakat akan wajibnya memberi nama kapada anak laki-laki dan perempuan 1). Oleh sebab itu apabila seseorang tidak diberi nama, maka ia akan menjadi seorang yang majhul (=tidak dikenal) oleh masyarakat.
Waktu Pemberian Nama
Telah datang sunnah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang waktu pemberian nama, yaitu:
Memberikan nama kepada anak pada saat ia lahir.
Memberikan nama kepada anak pada hari ketiga setelah ia lahir.
Memberikan nama kepada anak pada hari ketujuh setelah ia lahir.
Pemberian Nama Kepada Anak Adalah Hak (Kewajiban) Bapak.
Tidak ada perbedaan pendapat bahwasannya seorang bapak lebih berhak dalam memberikan nama kepada anaknya dan bukan kepada ibunya. Hal ini sebagaimana telah tsabit (=tetap) dari para sahabat radhiallahu ‘anhum bahwa apabila mereka mendapatkan anak maka mereka pergi kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam agar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nama kepada anak-anak mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan bapak lebih tinggi daripada ibu.
Nasab Anak Kepada Bapak Bukan Kepada Ibu
Sebagaimana hak memberikan nama kepada anak, maka seorang anakpun bernasab kepada bapaknya bukan kepada ibunya, oleh sebab itu seorang anak akan dipanggil: Fulan bin Fulan, bukan Fulan bin Fulanah.
Allah Ta’ala berfirman:
ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ (5) سورة الأحزاب
Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka…” (QS. Al-Ahzab: 5)
Oleh karena itu manusia pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama bapak-bapak mereka: Fulan bin fulan. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam 2).
Memilih Nama Terbaik Untuk Anak
Kewajiban bagi seorang bapak adalah memilih nama terbaik bagi anaknya, baik dari sisi lafadz dan maknanya, sesuai dengan syar’iy dan lisan arab. Kadangkala pemberian nama kepada seorang anak baik adab dan diterima oleh telinga/pendangaran akan tetapi nama tersebut tidak sesuai dengan syari’at.
Tata Tertib Pemberian Nama Seorang Anak
Disukai Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Dua Suku Kata, misal Abdullah, Abdurrahman. Kedua nama ini sangat disukai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana diterangkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud dll. Kedua nama ini menunjukkan penghambaan kepada Allah Azza wa Jalla. Dan sungguh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan nama kepada anak pamannya (Abbas radhiallahu ‘anhu), Abdullah radhiallahu ‘anhuma. Kemudian para sahabat radhiallahu ‘anhum terdapat 300 orang yang kesemuanya memiliki nama Abdullah. Dan nama anak dari kalangan Anshor yang pertama kali setelah hijrah ke Madinah Nabawiyah adalah Abdullah bin Zubair radhiallahu ‘anhuma.
Disukai Memberikan Nama Seorang Anak Dengan Nama-nama Penghambaan Kepada Allah Dengan Nama-nama-Nya Yang Indah (Asma’ul Husna), misal: Abdul Aziz, Abdul Ghoniy dll. Dan orang yang pertama yang menamai anaknya dengan nama yang demikian adalah sahabat Ibn Marwan bin Al-Hakim. Sesungguhnya orang-orang Syi’ah tidak memberikan nama kepada anak-anak mereka seperti hal ini, mereka mengharamkan diri mereka sendiri memberikan nama anak mereka dengan Abdurrahman sebab orang yang telah membunuh ‘Ali bin Abi Tholib adalah Abdurrahman bin Muljam.
Disukai Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Nama-nama Para Nabi. Para ulama sepakat akan diperbolehkannya memberikan nama dengan nama para nabi3).Diriwayatkan dari Yusuf bin Abdis Salam, ia berkata:”Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nama kepadaku Yusuf” (HR. Bukhori –dalam Adabul Mufrod-; At-Tirmidzi –dalam Asy-Syama’il-). Berkata Ibnu Hajjar Al-Asqolaniy: Sanadnya Shohih. Dan seutama-utamanya nama para nabi adalah nama nabi dan rasul kita Muhammad bin Abdillah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama berbeda pendapat tentang boleh atau tidaknya penggabungan dua nama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama kunyahnya, Muhammad Abul Qasim. Berkata Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah:”Dan yang benar adalah pemberian nama dengan namanya (yakni Muhammad, pent) adalah boleh. Sedangkan berkunyah dengan kunyahnya adalah dilarang dan pelarangan menggunakan kunyahnya pada saat beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup lebih keras dan penggabungan antara nama dan kunyah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam juga terlarang”4).
Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Nama-nama Orang Sholih Dari Kalangan Kaum Muslimin.Telah tsabit dari hadits Mughiroh bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda: أنهم كانوا يسمون بأسماء أنبيائهم والصالحين (رواه مسلم). “Sesungguhnya mereka memberikan nama (pada anak-anak mereka) dengan nama-nama para nabi dan orang-orang sholih” (HR. Muslim)."
Kemudian para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah penghulunya orang-orang sholih bagi umat ini dan demikian juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari akhir.
Para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memandang bahwa hal ini adalah baik, oleh karena itu sahabat Zubair bin ‘Awan radhiallahu ‘anhu memberikan nama kepada anak-anaknya –jumlah anaknya 9 orang- dengan nama-nama sahabat yang syahid pada waktu perang Badr, missal: Abdullah,’Urwah, Hamzah, Ja’far, Mush’ab, ‘Ubaidah, Kholid, ‘Umar, dan Mundzir.
Syarat-syarat Dalam Pemberian Nama
Nama tersebut menggunakan bahasa arab.
Nama tersebut dibangun dengan makna yang baik secara bahasa dan syari’at. Oleh karenanya dengan adanya syarat ini tidak boleh menggunakan nama-nama yang haram atau makruh baik dalam segi lafadz ataupun maknanya. Oleh karena itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek menjadi nama-nama yang baik dari segi lafadz dan maknanya.
Nama-nama yang Diharamkan
Kaum muslimin telah bersepakat terhadap haramnya penggunaan nama-nama penghambaan kepada selain Allah Ta’ala baik dari matahari, patung-patung, manusia atau selainnya, missal: Abdur Rasul (=hambanya Rasul), Abdun Nabi (=hambanya Nabi) dll. Sedangkan selain nama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, misal: Abdul ‘Izza (=hambanya Al-‘Izza (nama patung/berhala), Abdul Ka’bah (=hambanya Ka’bah), Abdus Syamsu (=hmabanya Matahari) dll.
Memberi nama dengan nama-nama Allah Tabaroka wa Ta’ala, misal: Rahim, Rahman, Kholiq dll.
Memberi nama dengan nama-nama asing atau nama-nama orang kafir.
Memberi nama dengan nama-nama patung/berhala atau sesembahan selain Allah Ta’ala, misal: Al-Lat, Al-‘Uzza dll.
Memberi nama dengan nama-nama asing baik yang berasal dari Turki, Faris, Barbar dll.
Setiap nama yang memuji (tazkiyyah) terhadap diri sendiri atau berisi kedustaan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; ن أخنع إسم عند الله رجل تسمى ملك الأملاك (رواه البخاري؛ مسلم “Sesungguhnya nama yang paling dibenci oleh Allah adalah seseorang yang bernama Malakul Amlak (=rajanya diraja)” (HR. Bukhori; Muslim).
Memberi nama dengan nama-nama Syaithon, misal: Al-Ajda’ dll.
Nama-nama Yang Dimakruhkan
Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama-nama orang fasiq, penzina dll.
Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama perbuatan-perbuatan jelek atau perbuatan-perbuatan maksiat.
Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama para pengikut Fir’un, misal: Fir’un, Qarun, Haman.
Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama-nama hewan yang telah dikenal akan sifat-sifat jeleknya, misal: Anjing, keledai dll.
Dimakruhkan memberi nama anak dengan Ism, mashdar, atau sifat-sifat yang menyerupai terhadap lafzdz “agama” (الدين) , dan lafadz “Islam” (الإسلام), misal: Nurruddin, Dliyauddin, Saiful Islam dll.
Dimakruhkan memberi nama ganda5), misal: Muhammad Ahmad, Muhammad Sa’id dll.
Para ulama memakruhkan memberi nama dengan nama-nama surat dalam Al-Qur’an, misal: Thoha, Yasin dll.
Jalan Keluar Dari Pemberian Nama-nama Yang Diharamkan Dan Yang Dimakruhkan
Jalan keluar dari kedua hal ini adalah merubah nama-nama tersebut dengan nama-nama yang disukai (mustahab) atau yang diperbolehkan secara syar’i. Dan untuk merubah nama ini kita dapat mendatangi kementrian/depertemen yang mengurusi masalah ini.6)
Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang mengandung makna kesyirikan kepada Allah kepada nama-nama Islamiy, dari nama-nama kufur kepada nama-nama imaniyah.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhaiallahu ‘anha, ia berkata:
كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يغير الإسم القبيح إلى الإسم الحسن (رواه الترمذي).
Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek menjadi nama-nama yang baik” (HR. AT-Tirmidzi).
Demikianlah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek dengan nama-nama yang baik, seperti beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama Syihab menjadi Hisyam dll. Demikian juga kita mesti merubah nama-nama yang buruk menjadi nama-nama yang baik, misal: Abdun Nabi menjadi Abdul Ghoniy, Abdur Rasul menjadi Abdul Ghofur, Abdul Husain menjadi Abdurrahman dll.
Maraji’:
Tasmiyah Al-Maulud, karya: Asy-Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid
Catatan Kaki:
1) Marotib Al-Ijma’, hal: 154. Oleh Ibn Hazm.
2) Lihat Shahih Bukhori, bab: Maa Yad’u An-Naas Bi abaihim.
3) Lihat Syarh Shahih Muslim 8/437. Imam An-Nawawi rahimahullah; Marotib Al-Ijma’, hal: 154-155.
4) Zaadul Ma’ad, 2/347. Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah.
5) Maksudnya adalah memberikan nama anak dengan dua nama, yang mana nama tersebut terdapat dalam satu orang. Misal Muhammad Ahmad, nama Muhammad dan Ahmad dimiliki oleh satu orang, dan Ahmad bukanlah nama bapaknya,pent.
6) Untuk di sini (Kuwait) kita dapat mendatangi Mahkamah,pent.
Dikutip dari Darussalaf.org offline dinukil dari http://abdurrahman.wordpress.com Penulis: Ustadz Abu Muhammad Abdurrahman Sarijan Judul: Etika Memberi Nama Anak Dalam Islam
Sumber : http://kaahil.blogdetik.com/2008/12/20/etika-memberi-nama-anak-dalam-islam/
Nama islam untuk nama bayi Islam anda mempunyai arti penting. Pemilihana nama bayi islam yang merupakan anugrah Allah telah di mendapat tuntunan nabi. Nama Islamadalah do'a dan untuk itu nama nama bayi islam anda selayaknya mendapatkan perhatian. Anda dapat mendownload daftar 853 nama islam untuk nama bayi islam anda melalui link di blog ini. Mudah2an nama untuk buah hati anda menjadi do'a yang makbul. Sebelum memilih nama bayi islam anda ada beberapa panduan memilih nama bayi islam
1. Sebaik-baik nama adalah ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman (Al-Hadits)
2. Nama yang paling sesuai adalah Ĥarits dan Hammam (Al-Hadits)
3. Nama yang paling buruk adalah Ĥarb dan Murrah (Al-Hadits)
4. Dilarang menggunakan nama Barrah (Al-Hadits)
5. Dilarang menggunakan nama-nama yang berarti buruk
6. Dilarang menggunakan nama sesembahan selain Allah, seperti ‘Abdul Ka’bah, dll
6. Dilarang menggunakan Asmaa-ul Husnaa jika tidak memakai ‘Abdu di depannya
7. Dilarang menggunakan nama-nama malaikat
8. Dilarang menggunakan nama-nama menyerupai orang-orang di luar Islam
9. Dianjurkan tidak menggunakan nama-nama yang terlalu panjang. Kebanyakan nama-nama bayi di zaman Nabi SAW hanya terdiri dari 1 kata saja
10. Karena nama bayi Islam dalam bahasa Arab, dianjurkan untuk memilih nama yang mengandung huruf-huruf Arab yang mudah diucapkan oleh lisan Indonesia secara benar, sehingga tidak merubah arti nama tersebut.
Anda bisa mencari literatur lain untuk memperkuat panduan memilih nama bayi islam diatas karena pasti ada pendapat yang berbeda, silahkan tetapkan niat anda.
NAMA BAYI LAKI-LAKI
Aid, yang Kembali
Abbas, Paman Nabi2
Abdul Alim, Hamba yang Maha Tahu
Abdul Ally, Hamba yang Maha Tinggi
Abdul Azhim, Hamba yang Maha Agung
Abdul Aziz, Hamba yang Maha Kuat
Abdul Bari, Hamba yang Maha Pencipta
Abdul Basits, Hamba yang Maha Meluaskan
Abdul Fatah, Hambata yang Maha Membuka Rizki
Abdul Ghaffar, Hamba yang Maha Pengampun
Abdul Ghani, Hamba yang Mahakaya
Abdul Hadi, Hamba yang Maha Memberi Petunjuk
Abdul Hafizh, Hamba yang Maha Menetapkan Hukum
Abdul Hakim, Hamba yang Maha Bijaksana
Abdul Halim, Hamba yang Maha Lembut
Abdul Hamid, Hamba yang Maha Terpuji
Abdul Haq, Hamba yang Maha Benar
Abdul Hasib, Hamba yang Maha Penghitung
Abdul Jabar, Hamba yang Mahaperkasa
Abdul Jalil, Hamba yang Mahaluhur
Abdul Karim, Hamba yang Maha Pemurah
Abdul Khaliq, Hamba yang Maha Pencipta
Abdul Latief, Hamba yang Maha Lembah-lembut
Abdul Majid, Hamba yang Maha Mulia
Abdul Matin, Hamba yang Maha Perkasa
Abdul Mu'iz, Hamba yang maha Pemberi Kemuliaan
Abdul Muhaimin, Hamba yang Maha Penjaga
Abdul Muhsin, Hamba yang Maha Baik
Abdul Qadir, Hamba yang Maha Kuasa
Abdul Qahhar, Hamba yang Maha Penakluk
Abdul Quddus, Hamba yang Maha suci
Abdul Wahhab, Hamba yang Maha Pemberi
Abdul Wahid, Hamba yang Maha esa
Abdullah, Hamba Allah
Abdun Nasir, Hamba yang Maha Penolong
Abdur Rauf, Hamba yang Maha Pengasih
Abdur Rafi, Hamba yang Maha Pengangkat
Abdur Rahim, Hamba yang Maha Penyayang
Abdur Rahman, Hamba yang Maha Pengasih
Abdur Rasyid, Hamba yang Maha pandai
Abdur Rauf, Hamba yang Maha Penyayang
Abdur Razaq, Hamba yang Maha Memberi Rizki
Abdus Salam, Hamba yang Maha Sejahtera
Abdus Shabir, Hamba yang Maha Penyabar
Abdus Syakur, Hamba yang Maha Berterima kasih
Abdut Tawwab, Hamba yang Maha Penerima
Abid, Ahli Ibadah
Adib, Beradab
Adil, Yang Adil
Adnan, Mendiami, menempati
Ady, Kaum yang bersiap perang
Afif, Selamat dari Kehinaan
Ahmad, Memuji
Ali, Nama Khalifah keempat
Alif, Lemah Lembuh
Alim, Pandai
Allam, Banyak Ilmu
Alwan, Tinggi
Aly, Mulia
Amin, yang dapat dipercaya
Amir, Raja, Pemimpin
Ammar, Kuat imannya
Amru, Kehidupan
Anis, Ramah
Anwar, Bercahaya
Aqil, Paham
Arif, Yang tahu
Arkan, Kemuliaan
As'ad, Lebih Bahagia
Ashim, Yang memelihara Diri
Asyam, Pemimpin yang Mulia
Asyraf, lebih Mulia
Asyur, Hari ke-10 Bulan Muharam
Atha, Rizki
Athif, Orang yang lemah lembut
Atiq, Mulia
Ayub, Nama Nabi
Azhar, bercahaya
Aziz, yang perkasa
Azzam, berkemauan keras
Badar, Bulan Purnama
Badrani, 2 bulan Purnama
Bahij, yang cerita, tampan, pemandangan yang elok
Bahir, yang mengalahkan
Bahy, Tampan dan bermata indah
Bandar, Pelabuhan
Bari', Terjaga dari perbuatan dosa dan aib
Barraq, Berkilauan
Basil, Pemberani
Basman/Bassam, yang banyak senyum
Basyir, berita gembira
Bilal, Nama sahabat
Burhan, Penjelasan
Daffa', Banyak memiliki pertahanan diri
Dany, Dekat
Daris, Pembaca
Darwisy, Yang banyak beribadah
Dary, Arif bijaksana
Daud, Nama Nabi
Dhahy, Tempat yang terang
Dhaif, Tamu
Dhawy, Bersinar
Dhafi, yang lebar rambutnya
Daifullah, Tamu Allah
Dhiya, Sinar/Cahaya
Dzahab, emas
Dzakir, yang kuat daya ingatnya
Dzakwan, Sangat cerdas
Dzaky, cerdas, pandai
Dzamar, sesuatu yang harus dipertahankan
Dzikra, Peringatan
Fadhal, kebaikan
Fadhil, Yang berbudi
Fadi, Yang menebus
Fadlal, Keutamaan
Fadlil, Yang Utama
Faishal, Hakim
Fakhir, Bagus
Falih, Lurus
Fallah, Kemenangan
Farhan, Kesenangan / kebahagiaan
Fari', Perawakan tinggi
Farid, satu-satunya, tiada bandingnya
Faris, Pemburu
Farras, Cerdas
Farruq, Yang membedakan antara hak dan batil
Fathin, Cerdas
Fatih, Penakluk
Fauzan, Keberuntungan
Fawa, Kemenangan / Keberhasilan
Fuad, Hati
Ghali/Ghaly, Mahal / Berharga
Ghalib, yang menang
Habib, Yang terkasih
Hadi, Yang menunjukkan
Hadzal, Yang berjalan dgn cepat
Hafizh, Penghafal
Haidar, Pemberani
Hajid, Orang yang bertahajjud
Hakam, Hakim yang bijaksana
Halim, Lembut dan sabar
Hamdan, yang banyak pujian
Hamid, yang bersyukur
Hammad, yang banyak bersyukur
Hanif, yang lurus dalam beragama
Harun, Nama Nabi
Hasan, Baik
Hasib, Bangsawan
Hasyid, Orang yg selalu siap
Hasyim, Yang memecahkan perkara
Hatim, Mengadili
Hazim, berkemauan keras
Hibban, yang dikasihi
Hilal, Bulan Sabit
Hilmy, Penyabar/Pemurah
Hisyam, Kebaikan
Hud, Nama Nabi
Humam, Pemberani
Husain, sangat baik
Husam, Pedang yang tajam
Huwaidi, Yang mempunyai Sifat menakjubkan
Ibrahim, Nama Nabi
Imam, Teladan / Pemimpin
Isa, Nama Nabi
Ismail, Nama Nabi
Jalal, Orang besar yang dihormati
Jalil, Memiliki kekuasaan yang besar
Jamal, Keindahan
Jamaluddin, Keindahan agama
Jamil, yang baik
Jauhar, Permata
Jibran, Perintah
Jihad, Perjuangan
Kaisan, Cerdas
Kamal, Kesempurnaan / kelengkapan
Kamil, yang sempurna / lengkap
Karom, Kehormatan / Kemuliaan
Karim, yang terhormat
Kasib, Orang yang beruntung
Katib, Penulis
Khairi, Kebaikan
Khairullah, kebaikan Allah
Khalid, Kekal / Abadi
Khalifah, Pemimpin
Khalil, Teman karib
Khalish, Murni, bersih
Khatib, orang yang menyampaikan Khutbah
Luqman, Jalan terang
Lutfhi, Kehalusanku, kelembutanku
Mabruk, diberkahi
Mahbub, yang dicintai
Mahdy, yang mendapat hidayah
Mahfuzh, yang dijaga, dipelihara
Mahir, pandai
Mahmud, yang terpuji
Majid, yang baik
Malik, Raja / Yang memiliki
Maqbul, Diterima
Marjan, Batu Mutiara
Marzuq, yang memperoleh Rizky
Mas'ud, yang dianugerahi kebahagiaan
Masyurm Terkenal
Mathar, Hujan
Mauhub, yang dianugerahi
Miqdad, Orang yang mencegah kemungkaran
Mu'adz, Nama sahabat
Mubarak, Yang diberkahi
Muhajir, Orang yang berhijrah
Muhammad, Nama Nabi
Muhsin, yang berbuat baik
Mujahid, Pjuang
Mukhtar, Pilihan
Mukmin, Orang yang beriman
Mumtaz, Istimewa
Munir, bercahaya
Murad, Maksud
Mursyid, Penunjuk jalan
Mushlih, orang yang melakukan perbaikan
Muslim, orang Islam
Musthafa, Pilihan
Nabil, Terhormat
Nafal, Pemberian
Nafis, berharga
Najib, Mulia
Nashir, Yang menolong
Nasrullah, Pertolongan Allah
Naufal, Pemberian
Nayif, tinggi
Nazhim, Pengarang Puisi
Nazhir, yang memberi peringatan
Nibras, Pemberani
Nu'man, Yang memiliki kenikmatan
Nuh, Nama Nabi
Nuruddin, Cahaya Agama
Nuzhmi, jamaah, golongan
Qashid, yang menuju pada kemudahan
Qasim, yang membagi
Gatadah, Nama sahabat
Ra'if, sangat penyayang
Ra'uf, memiliki banyak kasih sayang
Rabbah, yang sangat beruntung
Rafi', Kedudukan yang tinggi & mulia
Raihan, Rizky
Rajab, Bulan Rajab
Ramadhan, Bulan Ramadhan
Ramiz, Yang merumuskan
Ramy, Bintang
Ramzi, Rumus
Ramzy, yang dapat disimbolkan
Rasul, Utusan
Rasyad, Petunjuk / Istiqamah
Rasyid, Petunjuk
Rasyiq, Tangkas, Gesit
Ratib, yang tetap
Ridhwan, Kepuasan, menerima
Riyadh, Taman
Rusydi, Petunjuk
Sa'id, Senang / Bahagia
Safar, berpergian
Sahir, yang berjaga diwaktu malam
Saif, pedang
Sajid, orang yang sujud kepada Allah
Salam / Salim, Selamat
Salman, nama sahabat
Sami, Luhur / Tinggi
Samir, Siang dan Malam
Sayyid, Pemuka / Pemimpin
Shabir / Shabri, Yang sabar / kesabaran
Shadiq, teman
Shafy, sahabat karib
Shahib, sahabat
Shamid, teguh / tegar
Shiddiq, yang jujur
Sidqi, kejujuran
Siraj, lentera / Lampu
Su'ud, keberuntungan
Sulaiman, nama Nabi
Sulthan, Kekuasaan
Sya'ban, Bulan Sya'ban
Syaddad, yang kuat
Syafi, yang menyembuhkan
Syafi', penolong / perantara
Syahid, orang yg meninggal fi sabilillah
Syakir, yang bersyukur
Syarif, yang mulia
Tamim, sempurna keadaannya
Tamir, banyak rizki dan kebaikan
Tamman, sempurna
Taufiq, petunjuk
Thaha, Nama surat dalam Al Qur'an
Thariq, Jalan
Thayyib, Baik
Tsani, yang kedua
Tsaqif, yang pandai
Umar, Nama Khalifah yang kedua
Umran, Kemakmuran
Utsman, Nama Khalifah ketiga
Wadud, yang dicintai
Wafi, yang melaksanakan / yang memenuhi (janji)
Wahid, satu-satunya
Wali, yang mencintai
Walid, yang dilahirkan
Washil, yang menghubungkan
Wasim, yang berwajah bagus
Ya'qub, Nama Nabi
Yafi, Lincah
Yahya, Nama Nabi
Yasir, Mudah / gampang
Yazid, lebih
Yunus, Nama Nabi
Yusuf, Nama Nabi
Zaghlul, cepat & ringan
Zahran, berkilau
Zahy, Wajah yang Elok
Zaky, Suci
Zakariya, Nama Nabi
Zhafar, kemenangan
Zhafir, yang menang / yang beruntung
Zhahir, yang tampak, yang nyata
Zuhair, bersinar
NAMA-NAMA BAYI PEREMPUAN
A'idah, Anugrah
Adzra', Perawan
Afifah, yang menjaga kesucian diri
Aisyah, Istri nabi
Aliyah, tinggi
Alya', langit
Aminah, yang terpercaya
Amirah, Pemimpin
Anisah, gadis perawan / lemah lembut
Aqilah, Terhormat, pandai
Arij, Harum
Asahy, warna-warni
Ashimah, yang menjaga
Asilah, yang berbuat baik
Asma, Unggul
Athifah, kasing sayang
Athirah, yang harum
Atikah, jernih
Atiqah, cantik
Azhar, Bunga2
Azizah, yang mulia
Badriyyah, malam rembulan
Balqis, Ratu negeri saba'
Basamah, tersenyum
Basimah, yang tersenyum
Dalilah, bukti
Daliyah, yang menunjukkan
Danah, Batu mulia
Dananir, Dinar
Daulah, Negara
Dunya, Dunia
Dien, agama
Dhaifa, tamu
Dhafiyah, mewah
Dinah, taat
Diyanah, Agama
Durah, mutiara
Dzahabiyyah, yang memiliki sifat emas
Dzakirah, yang berzikir
Dzakiyyah, cerdas
Dzikra, peringatan
Fa'izah, yang beruntung
Fadhilah, keistimewaan
Fadiyah, yang terlindungi
Faidah, Manfaat
Fairuz, Batu mulia
Farah, senang
Farhah, keceriaan
Faridah, tiada bandingnya
Fathimah, Putri Nabi
Fathinah, cerdas
Fathiyyah, Kemenangan
Fatin, yang menakjubkan
Fauziyyah,yang beruntung
Fikriyyah, berfikir
Firdaus, taman surga
Gaitsa', awan turunnya hujan
Ghaniyyah, wanita kaya
Ghaniyah, wanita penyenandung
Ghazalah, matahari terbit
Habibah, yang tercinta
Hadiyah, hadiah
Hafizhah, pemelihara
Hajar, Istri nabi Ibrahim AS
Hajir, yang berhijrah
Hajirah, yang berhijrah
Hakimah, yang bijaksana
Halimah, yang lebih, sabar
Hamamah, merpati
Hamidah, Yang memuji
Hana', suka cita
Hanan, Kasih sayang
Hamsah, suara pelan
Hanin, kasih sayang
Haniyah, lemah lembut
Hasanah, kebaikan
Hasibah, keturunan terpandang
Hasna', kebaikan, cantik
Hasyimiyyah, yang mulia
Haura', putih kulitnya
Haya, Puteri
Hazimah, keteguhan hati
Husna, kelembutan
Husniyah, yang baik
Hiwaidah, yang menakjubkan, kelembutan
Inas, baik hati
Inayah, tuntunan
Izah, kemuliaan
Ja'izah, hadiah
Jahra', memiliki pipi yang indah
Jaida', kebaikan
Jalilah, terhormat
Jamilah, yang indah
Jauzah, bintang
Jawahir, permata
Jihan, menjadikan terhormat
Juwairiyyah, istri nabi
Kadziyah, bunga yang harum
Kaltsum, cantik
Kamilah, sempurna
Karamah, kemuliaan
Karimah, Mulia
Kautsar, telaga surga
Kazhimah, sanggup menahan amarah
Khadijah, istri nabi
Khairiyah, baik
Khalishah, murni
Khaznah, harta yang disimpan
Labibah, cerdas
Lahfah, kerinduan
Laila, malam gelap
Luthfiyyah, halus
Mahabbah, kecintaan
Mahdiyyah, yang mendapat hidayah
Mahirah, pandai
Maimunah, yang beruntung
Mariyah, wajah yang berseri-seri
Marjanah, sebutir mutiara
Marmarah, baru marmer
Maryam, ibu Nabi Isa
Masarrah, kegembiraan
Mauhibah, anugrah
Mawaddah, kasih sayang
Mubarakah, diberkahi
Mufidah, yang berfaidah
Muhdiyah, yang menunjukkan
Mujahidah, pejuang
Mukminah, yang beriman
Munirah, yang terang
Murada, yang dicintai
Na'ilah, karunia
Nabilah, mulia
Nada, menyeru
Nadiyah, yang menyeru
Nafi'ah, bermanfaat
Nafisah, kaya raya
Nagmah, suara merdu
Najah, sukses
Nadjah, keberanian
Najiyah, selamat
Najlah', yang lebar matanya
Najmah, bintang
Najwa, rahasia
Nasamah, pembebasan
Nashirah, mendapat pertolongan dan menang
Nazhimah, kumpulan mutiara
Nazihah, terhindar dari hal-hal buruk
Nihayah, penutur
Nujud, cerdik
Nur, Cahaya
Nuwayyar, yang bercahaya
Qamariyyah, Nama bunga
Qasimah, cantik
Qiladah, kalung
Qismah, bagian
Ra'idah, pemandu
Rafi'ah, yang tinggi
Rafidah, yang diberi pertolongan
Rafiqah, Istri
Raghdah, damai
Rahaf, halus
Rahimah, penyayang
Rahmah, rahmat
Raihanah, wanita yang baik jiwanya
Raim, bukit
Raima, selama
Rajwa, permohonan
Raniyah, yang memandang dengan terpesona
Rasikhah, tegar, kuat
Rasyidah, yang matang fikirannya
Raudhah, taman
Rifqah, himpunan
Sa'adah, kebahagiaan
Sa'idah, yang senang
Sahilah, yang sangat mudah
Sahirah, rembulan
Sajidah, yang banyak bersujud
Sakinah, tenang
Salimah, selamat
Sallamah, yang menyelamatkan
Salma, selamat
Salsabil, mata air surga
Salwa, nama burung, madu
Samar, sinar rembulan
Samirah, siang dan malam
Samiyah, luhur
Samra', warna coklat
Sarah, Istri nabi Ibrahim
Sayyidah, Nyonya
Shabah, waktu pagi
Shabihah, wajah yang berseri-seri
Shada, gema
Shadiqah, yang jujur
Shafa, kejernihan
Shalihah, wanita yang shaleh
Shiba, kerinduan
Suhailah, mudah
Sulthanah, pemimpin wanita
Syarifah, yang mulia
Syukriyyah, kesyukuran
Tahani, selamat
Tamimah, perlindungan
Thallah, cantik
Thayyibah, yang baik
Tsamirah, yang berbuah
Tumamah, kesempurnaan
Ulfah, ramah tmah
Ulya, yang luhu
Umu Kultsum, Nama Puteri Nabi
Unsyudah, syair yang berkumandang
Wahidah, satu-satunya
Waliyah, yang mencitai
Wardah, bunga mawar
Wasimah, Berwajah cantik
Yamamah, merpati
Yasamin/yasaminah, Bunga melati
Zahirah, bercahaya
Zahrah, bunga
Zahwah, membanggakan
Zainab, istri nabi
Zainah, yang indah
Zakiyah, Suci
Zhafirah, yang beruntung
Zhahirah, penolong

CINTA YANG BERLEBIHAN

Cinta memang indah. Cinta itu laksana pohon di dalam hati. Akarnya adalah ketundukan kepada kekasih yang dicintai, dahannya adalah mengetahuinya, rantingnya adalah ketakutan kepadanya, daun-daunnya adalah malu kepadanya, buahnnya adalah ketaatan kepadanya dan air yang menghidupinya adalah menyebut namanya.
Cinta adalah karunia Allah. Kecintaan kepada seseorang ini pasti dimiliki oleh setiap insan. Namun hati-hati juga dengan cinta yang berlebihan kepada orang lain. Cinta yang berlebihan menyebabkan kita semakin bernafsu dan nafsu itu pastilah di tuntun oleh syetan. Memang kita tak sadar akan tuntunan syetan itu. Karena kita sudah dipengaruhi oleh syetan. Oleh karena itu, mengapa kita merasa cinta kepada orang lain sangat indah karena keindahan itulah yang membuat syetan. Dan juga itulah sebab Dilarangnya Pacaran


Akibat dari cinta berlebihan membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu. Cinta yang tidak dilandasi kepada Allah. Itulah para pecinta dunia, harta dan wanita. Dia lupa akan cinta Allah, cinta yang begitu agung, cinta yang murni.

Cinta Allah cinta yang tak bertepi. Jikalau sudah mendapatkan cinta-Nya, dan manisnya bercinta dengan Allah, tak ada lagi keluhan, tak ada lagi tubuh lesu, tak ada tatapan kuyu. Yang ada adalah tatapan optimis menghadapi segala cobaan, dan rintangan dalam hidup ini. Tubuh yang kuat dalam beribadah dan melangkah menggapai cita-cita tertinggi yakni syahid di jalan-Nya.

Tak jarang orang mengaku mencintai Allah, dan sering orang mengatakan mencitai Rasulullah, tapi bagaimana mungkin semua itu diterima Allah tanpa ada bukti yang diberikan, sebagaimana seorang arjuna yang mengembara, menyebarangi lautan yang luas, dan mendaki puncak gunung yang tinggi demi mendapatkan cinta seorang wanita. Bagaimana mungkin menggapai cinta Allah, tapi dalam pikirannya selalu dibayang-bayangi oleh wanita/pria yang dicintai. Tak mungkin dalam satu hati dipenuhi oleh dua cinta. Salah satunya pasti menolak, kecuali cinta yang dilandasi oleh cinta pada-Nya.

Oleh karena itu yang harus kita persiapkan ada yaitu:

1) Iman yang kuat

2) Ikhlas dalam beramal

3) Mempersiapkan kebaikan Internal dan eksternal. kebaikan internal yaitu berupaya keras untuk melaksanakan ibadah wajib dan sunah. Seperti qiyamulail, shaum sunnah, bacaan Al-qur’an dan haus akan ilmu. Sedangkan kebaikan eksternal adalah buah dari ibadah yang kita lakukan pada Allah, dengan keistiqamahan mengaplikasikannya dalam setiap langkah, dan tarikan nafas disepanjang hidup ini. Dengan demikian InsyaAllah kita akan menggapai cinta dan keridhaan-Nya.

DEFINISI DAN HUKUM PACARAN

 Istilah pacaran itu sebenarnya bukan bahasa hukum, karena pengertian dan batasannya tidak sama buat setiap orang. Dan sangat mungkin berbeda dalam setiap budaya. Karena itu kami tidak akan menggunakan istilah `pacaran` dalam masalah ini, agar tidak salah konotasi.




Pacaran dapat diartikan bermacam-macam, tetapi intinya adalah jalinan cinta antara seorang remaja dengan lawan jenisnya. Praktik pacaran juga bermacam-macam, ada yang sekedar berkirim surat,telepon, menjemput, mengantar atau menemani pergi ke suatu tempat,apel, sampai ada yang layaknya pasangan suami istri.

Di kalangan remaja sekarang ini, pacaran menjadi identitas yang sangat dibanggakan. Biasanya seorang remaja akan bangga dan percaya diri jika sudah memiliki pacar. Sebaliknya remaja yang belum memiliki pacar dianggap kurang gaul. Karena itu, mencari pacar di kalangan remaja tidak saja menjadi kebutuhan biologis tetapi juga
menjadi kebutuhan sosiologis. Maka tidak heran, kalau sekarang mayoritas remaja sudah memiliki teman spesial yang disebut "pacar".

Lalu bagaimana pacaran dalam pandangan Islam???

Istilah pacaran sebenarnya tidak dikenal dalam Islam. Untuk istilah hubungan percintaan antara laki-laki dan perempuan pranikah, Islam mengenalkan istilah "khitbah (meminang". Ketika seorang laki-laki menyukai seorang perempuan, maka ia harus mengkhitbahnya dengan maksud akan menikahinya pada waktu dekat. Selama masa khitbah, keduanya harus menjaga agar jangan sampai melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Islam, seperti berduaan, memperbincangkan aurat, menyentuh, mencium, memandang dengan nafsu, dan melakukan selayaknya suami istri.

Ada perbedaan yang mencolok antara pacaran dengan khitbah. Pacaran tidak berkaitan dengan perencanaan pernikahan, sedangkan khitbah merupakan tahapan untuk menuju pernikahan. Persamaan keduanya merupakan hubungan percintaan antara dua insan berlainan jenis yang tidak dalam ikatan perkawinan.
Dari sisi persamaannya, sebenarnya hampir tidak ada perbedaan antara pacaran dan khitbah. Keduanya akan terkait dengan bagaimana orang mempraktikkannya. Jika selama masa khitbah, pergaulan antara laki-laki dan perempuan melanggar batas-batas yang telah ditentukan Islam, maka itu pun haram. Demikian juga pacaran, jika orang dalam berpacarannya melakukan hal-hal yang dilarang oleh Islam, maka hal itu haram.

Jika seseorang menyatakan cinta pada lawan jenisnya yang tidak dimaksudkan untuk menikahinya saat itu atau dalam waktu dekat, apakah hukumnya haram? Tentu tidak, karena rasa cinta adalah fitrah yang diberikan allah, sebagaimana dalam firman-Nya berikut:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar-Rum: 21)

Allah telah menjadikan rasa cinta dalam diri manusia baik pada laki-laki maupun perempuan. Dengan adanya rasa cinta, manusia bisa hidup berpasang-pasangan. Adanya pernikahan tentu harus didahului rasa cinta. Seandainya tidak ada cinta, pasti tidak ada orang yang mau membangun rumah tangga. Seperti halnya hewan, mereka memiliki instink seksualitas tetapi tidak memiliki rasa cinta, sehingga setiap kali bisa berganti pasangan. Hewan tidak membangun rumah tangga.

Menyatakan cinta sebagai kejujuran hati tidak bertentangan dengan syariat Islam. Karena tidak ada satu pun ayat atau hadis yang secara eksplisit atau implisit melarangnya. Islam hanya memberikan batasan-batasan antara yang boleh dan yang tidak boleh dalam hubungan laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri.

Di antara batasan-batasan tersebut ialah:

1. Tidak melakukan perbuatan yang dapat mengarahkan kepada zina Allah SWT berfirman, "Dan janganlah kamu mendekati zina: sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra: 32) Maksud ayat ini, janganlah kamu melakukan perbuatan-perbuatan yang bisa menjerumuskan kamu pada
perbuatan zina. Di antara perbuatan tersebut seperti berdua-duaan dengan lawan jenis ditempat yang sepi, bersentuhan termasuk bergandengan tangan, berciuman, dan lain sebagainya.

2. Tidak menyentuh perempuan yang bukan mahramnya Rasulullah SAW bersabda, "Lebih baik memegang besi yang panas daripada memegang atau meraba perempuan yang bukan istrinya (kalau ia tahu akan berat siksaannya). "

3. Tidak berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya Dilarang laki dan perempuan yang bukan mahramnya untuk berdua-duan. Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir,maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak mahramnya, karena ketiganya adalah setan." (HR. Ahmad)

4. Harus menjaga mata atau pandangan Sebab mata kuncinya hati. Dan pandangan itu pengutus fitnah yang sering membawa kepada perbuatan zina. Oleh karena itu Allah
berfirman, "Katakanlah kepada laki-laki mukmin hendaklah mereka memalingkan pandangan (dari yang haram) dan menjaga kehormatan mereka.....Dan katakanlah kepada kaum wanita hendaklah mereka meredupkan mata mereka dari yang haram dan menjaga kehormatan mereka..." (QS. An-Nur: 30-31)
Yang dimaksudkan menundukkan pandangan yaitu menjaga pandangan, tidak melepaskan pandangan begitu saja apalagi memandangi lawan jenis penuh dengan gelora nafsu.

5. Menutup aurat
Diwajibkan kepada kaum wanita untuk menjaga aurat dan dilarang memakai pakaian yang mempertontonkan bentuk tubuhnya, kecuali untuk suaminya. Dalam hadis dikatakan bahwa wanita yang keluar rumah dengan berpakaian yang mempertontonkan lekuk tubuh, memakai minyak wangi yang baunya semerbak, memakai "make up" dan sebagainya setiap
langkahnya dikutuk oleh para Malaikat, dan setiap laki-laki yang memandangnya sama dengan berzina dengannya. Di hari kiamat nanti perempuan seperti itu tidak akan mencium baunya surga (apa lagi masuk surga)

Selagi batasan di atas tidak dilanggar, maka pacaran hukumnya boleh.
Tetapi persoalannya mungkinkah pacaran tanpa berpandang-pandanga n,
berpegangan, bercanda ria, berciuman, dan lain sebagainya. Kalau
mungkin silakan berpacaran, tetapi kalau tidak mungkin maka jangan
sekali-kali berpacaran karena azab yang pedih siap menanti Anda.

akibat cinta yang berlebih

Di zaman sekarang ini banyak sekali kasus yang di hadapi para remaja, mulai dari masalah tentang problema hidup hingga masalah cinta. Berbicara tentang cinta,
Remaja adalah kalangan yang rawan terkena masalah itu karena pada seumuran mereka merupakan awal dari masa puberlitas, sudah mulai timbul perasaan-peasaan yang agak lain terhadap lawan jenis.
Pada saat ini banyak sekali di temui masalah-masalah di hadapi remaja yang di timbulkan tentang cinta. Seakan nmasalah tersebut mampu menghipnotis pikiran pikiran remaja hingga mereka melakukan hal-hal yang tak seharusnya di lakukan.
Biasanya remaja yang terjebak dalam situasi ini sering sekali gelap mata dengan mengikuti semua perintah pasangannya walaupun hatinya menentang malah terkadang mereka menganggap bahwa pasangannya adalah hal yang paling penting dari pada apapun. Akibat cinta berlebihan seseorang dapat kehilangan pikirannya, padahal pengertian cinta itu sendiri adalah menyayangi seseorang dengan cakupan tertentu. Hanya saja karna terbawa perasaan banyak remaja khususnya seusia belasan yang salah mengartikan cinta.
Menurut Dra. Devi damayanti dalam artikelnya
Seseorang yang jatuh cinta secara berlebihan akan menghasilkan chemistry yang berlebihan pula. Karena cara kerjanya mirip drugs, seseorang yang jatuh cinta secara berlebihan mirip seperti pecandu berat. Ketika itu akan terjadi euphoria berlebihan yang membuat dunia menjadi begitu indah dan menyenangkan. Ketika itu pula ia akan berada pada titik di dekat puncak emosi dimana pertimbangan logika rasionalnya hampir tiada.
Pada kondisi seperti itu sebenarnya ia berada dalam bahaya dan rentan resiko. Jika tiba-tiba timbul masalah dalam kisah cintanya dan akhirnya harus “putus” maka ia benar-benar seperti pecandu berat yang dipaksa berhenti mengkonsumsi drugs. Rasanya akan sangat menyakitkan. Tingkat penderitaannya akan berkorelasi dengan seberapa dalam tingkat kecanduannya dalam bercinta. Pada pecandu drugs akut resiko paling ekstrim adalah kematian. Begitu pula dengan pecinta akut, kematian adalah hal yang sangat mungkin terjadi. Banyaknya berita bunuh diri akibat “putus” cinta membuktikan hal itu.
Memang putus cinta sangat berat dan menyakitkan bagi orang yang pernah merasakan, tetapi kita sebagai manusia harus selalu tegar dan sabar dalam menghadapi segala macam cobaan kehidupan. Hali ini bisa kita lakukan ketika kita selalu menyadari bahwa kehidupan tak selamanya sedih dan tak selamanya pula bahagia. Kebahagiaan dan kesedihan menjadi dua rasa yang tak pernah akan hilang dari kehidupan dan akan selalu mewarnai kehidupan ini.
Orang yang sedang mengalami putus cinta biasanya mengalami depresi, lebih mudah emosi, cenderung tak semangat melakukan aktifitas sebagaimana biasanya. Hal ini memang wajar terjadi pada orang yang mengalaminya. Namun, akan menjadi tak wajar ketika sampai depresi yang berlebihan, karena akan sangat merugikan bagi dirinya.
Untuk mengantisipasi terjadinya depresi yang berlebihan ketika putus cinta, maka sejak orang menjalin cinta dengan orang lain harus menyiapakan mental untuk siap bahagia ketika tetap bisa bersatu dan siap juga sedih tatkala mereka harus berpisah/putus. Karena di dunia ini tak ada yang abadi, semuanya fana (musnah), dan yang kekal hanya Allah swt.
Rumus yang perlu kita pakai untuk mencintai dan membenci orang lain adalah dengan rumus mencintai dan membenci seseorang dengan tidak berlebihan, kenapa demikian? Segala sesuatu yang berlebihan tak baik dalam segala hal, yang dalam istilah arabnya sering disebut dengan al isrâf (berlebihan), berlebihan dalam mencintai suatu hal akan menjadikan dia seperti orang sedang mabuk, sehingga dikhawatirkan akan melakukan segala macam cara untuk mendapatkan cintanya tanpa memperdulikan cara yang yang dipakai adalah cara yang baik ataupun buruk. Di samping itu juga efeknya akan lebih berat manakala kita kehilangan sesuatu yang kita cintai dengan berlebihan.
Begitu juga ketika kita membenci seseorang, seyogyanya kita tak berlebihan, karena boleh jadi apa yang kita benci saat ini ternyata suatu saat baik bagi kita. Maka dalam sebuah pepatah disebutkan” cintailah kekasihmu dengan secukupnya dan bencilah sesuatu yang kamu benci dengan sewajarnya”. Pepatah ini mengingatkan kita untuk berhati-hati ketika mencintai dan membenci suatu hal, agar kita tak terjerumus pada efek yang negatif yang akan menimpa kita.
Allah swt juga mengajarkan pada kita semua untuk berhati-hati dalam mencintai dan membenci sesuatu, sebagaimana yang ada dalam Al-Qur’an, surat Al Baqoroh, disebutkan dalam penggalan ayat 216 yang artinya
” Boleh jadi apa yang kamu benci ternyata ia baik bagi kamu dan boleh jadi apa yang kamu cintai ternyata ia jelek bagi kamu, dan Allah mengetahui apa yang kamu semua tidak tahu.”
Selain dari apa yang sudah saya sebutkan di atas, orang yang mengalami putus cinta semestinya tetap tegar dan sabar serta tetap berusaha mengisi waktunya dengan kesibukan-kesibukan. Orang yang cenderung bermalas-malasan karena sedang dilanda hali ini, maka ia akan semakin stres. Yang tak kalah penting juga meminta nasehat dari orang tua, keluarga atau siapa saja yang sekiranya bisa memberikan kontribusi dengan bijaksana dalam masalah ini.
Hiburlah perasaan kamu sendiri dengan penuh percaya diri
” dengan mengatakan masih ada hari esok dan masih ada cinta yang lebih indah yang akan datang menjemputku dan menemaniku”
Serta terus mendekatkan diri pada Yang Maha kuasa agar mendapatkan petunjuk dan pertolongan dari-Nya. Pentingnya semakin mendekatkan diri pada Allah di saat seperti ini bisa menyelamatkan kita semua dari bisikan-bisikan syetan yang akan menjerumuskan kita pada hal-hal yang negatif. Sehingga dalam fenomena banyak orang yang sampai bunuh diri, menjadi pelacur, menjadi pecandu narkoba, karena masalah putus cinta.
Hal semacam ini sangat tidak baik, makanya perlu adanya keseimbangan antara logika dan spiritual pada setiap orang dalam menghadapi segala problematika kehidupan, adakalanya problem bisa diselesaikan cukup dengan rasio (akal), tetapi dalam kesempatan lain kadang akal tidak cukup untuk menyelesaikan problem yang dihadapinya, di sini peran pentingnya kekuatan spiritual yang menunjukkan adanya hubungan antara manusia dengan Tuhannya.