Takwa
sangat penting dan dibutuhkan dalam setiap kehidupan seorang muslim.
Namun masih banyak yang belum mengetahui hakekatnya. Setiap jum’at para
khotib menyerukan takwa dan para makmumpun mendengarnya berulang-ulang
kali. Namun yang mereka dengar terkadang tidak difahami dengan benar dan
pas.Pengertian Takwa.Untuk
mengenal hakekat takwa tentunya harus kembali kepada bahasa Arab,
karena kata tersebut memang berasal darinya. Kata takwa (التَّقْوَى) dalam etimologi bahasa Arab berasal dari kata kerja (وَقَى)
yang memiliki pengertian menutupi, menjaga, berhati-hati dan
berlindung. Oleh karena itu imam Al Ashfahani menyatakan: Takwa adalah
menjadikan jiwa berada dalam perlindungan dari sesuatu yang ditakuti,
kemudian rasa takut juga dinamakan takwa. Sehingga takwa dalam istilah
syar’I adalah menjaga diri dari perbuatan dosa.Dengan
demikian maka bertakwa kepada Allah adalah rasa takut kepadaNya dan
menjauhi kemurkaanNya. Seakan-akan kita berlindung dari kemarahan dan
siksaanNya dengan mentaatiNya dan mencari keridhoanNya.Takwa
merupakan ikatan yang mengikat jiwa agar tidak lepas control mengikuti
keinginan dan hawa nafsunya. Dengan ketakwaan seseorang dapat menjaga
dan mengontrol etika dan budi pekertinya dalam detiap saat kehidupannya
karena ketakwaan pada hakekatnya adalah muroqabah dan berusaha keras
mencapai keridhoan Allah serta takut dari adzabNya.Sangat
pas sekali definisi para ulama yang menyatakan ketakwaan seorang hamba
kepada Allah adalah dengan menjadikan benteng perlindungan diantara dia
dengan yang ditakuti dari kemurkaan dan kemarahan Allah dengan melakukan
ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.Berikut ini beberapa ungkapan para ulama salaf dalam menjelaskan pengertian takwa:1. Kholifah
yang mulia Umar bin Al Khothob pernah bertanya kepada Ubai bin Ka’ab
tentang takwa. Ubai bertanya: Wahai amirul mukminin, Apakah engkau
pernah melewati jalanan penuh duri? Beliau menjawab: Ya. Ubai berkata
lagi: Apa yang engkau lakukan? Umar menjawab: Saya teliti dengan seksama
dan saya lihat tempat berpijak kedua telapak kakiku. Saya majukan satu
kaki dan mundurkan yang lainnya khawatir terkena duri. Ubai menyatakan:
Itulah takwa.[1]2. Kholifah
Umar bin Al Khothob pernah berkata: Tidak sampai seorang hamba kepada
hakekat takwa hingga meninggalkan keraguan yang ada dihatinya.3. kholifah
Ali bin Abi Tholib pernah ditanya tentang takwa, lalu beliau menjawab:
Takut kepada Allah, beramal dengan wahyu (Al Qur’an dan Sunnah) dan
ridho dengan sedikit serta bersiap-siap untuk menhadapi hari kiamat.4. Sahabat Ibnu Abas menyatakan: Orang yang bertakwa adalah orang yang takut dari Allah dan siksaanNya.5. Tholq
bin Habib berkata: takwa adalah beramal ketaatan kepada Allah diatas
cahaya dari Allah karena mengharap pahalaNya dan meninggalkan
kemaksiatan diatas cahaya dari Allah karena takut siksaanNya6. ibnu Mas’ud menafsirkan firman Allah: اتَّقُواْ اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ dengan menyatakan: Taat tanpa bermaksiat dan ingat Allah tanpa melupakannya dan bersyukur.Takwa ada dikalbu.Takwa adalah amalan hati (kalbu) dan tempatnya di kalbu, dengan dasar firman Allah Ta’ala:Demikianlah
(perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah,
maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati. (QS. 22:32) . dalam ayat ini takwa di sandarkan kepada hati, karena hakekat takwa ada dihati. Demikian juga firman Allah:Sesungguhnya
orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah
orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa. (QS.
49:3)Sedangkan dalil dari hadits Nabi n tentang hal ini adalah sabda beliau: التَّقْوَى
هَهُنَا التَّقْوَى هَهُنَا التَّقْوَى هَهُنَا ويُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ
[ثَلاَثَ مَرَّاتٍ] بِحَسْبِ امْرِىءٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ
الْمُسْلِمَ كُلُّ اْلمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُّهُ
وَعِرْضُهُ Takwa
itu disini! Takwa itu disini! Takwa itu disini! –dan beliau
mengisyaratkan ke dadanya (Tiga kali). Cukuplah bagi seorang telah
berbuat jelek dengan merendahkan saudara muslimnya. Setiap muslim
diharamkan atas muslim lainnya dalam darah, kehormatan dan hartanya. (HR
Al Bukhori dan Muslim ). Juga hadits Qudsi yang masyhur dan panjang
dari sahabat Abu Dzar. Diantara isinya adalah:يَا
عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ
كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ
فِي مُلْكِي شَيْئًا Wahai
hambaKu, seandainya seluruh kalian yang terdahulu dan yang akan datang,
manusia dan jin seluruhnya berada pada ketakwaan hati seorang dari
kalian tentulah tidak menambah hal itu sedikitpun dari kekuasaanKu. (HR
Muslim)Dalam hadits ini ketakwaan disandarkan kepada tempatnya yaitu kalbu. Namun
walaupun ketakwaan adalah amalan hati dan adanya dihati, tetap saja
harus dibuktikan dan dinyatakan dengan amalan anggota tubuh. Siapa yang mengklaim bertakwa sedangkan amalannya menyelisihi perkataannya maka ia telah berdusta.Ketakwaan ini berbeda-beda sesuai kemampuan yang dimiliki setiap individu, sebagaimana firman Allah :فاتّقوا اللّهَ ما استَطَعتُمBertakwalah kepada Allah semampu kalian.Mudah-mudahan Allah memberikan kepada kita ketakwaan yang sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar